Minggu, 24 Februari 2013

5 Cara Memperoleh Modal Usaha


Ketika berpikir untuk membuat sebuah usaha, perlu dipertimbangkan ide usaha, skala usaha, kompetisi, permintaan pasar, tenaga kerja, serta yang sangat penting untuk dipikirkan adalah ketersediaan modal usaha beserta sumbernya. Modal bagaikan fondasi awal sebuah usaha yang akan dibangun. Tetapi perlu diingat modal bukan hanya sekedar uang atau aset, tetapi juga bisa dalam wujud pengetahuan terhadap usaha tersebut, pengalaman, keberanian, serta networking. Namun dari beberapa modal yang disebutkan di atas, kebanyakan calon pengusaha menemui kendala besar dalam mendapatkan modal berupa uang atau aset.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami akan membahas informasi mengenai cara memperoleh modal usaha untuk Anda yang hendak memulai bisnis skala kecil maupun menengah. Ada beberapa alternatif yang dapat digunakan untuk mendapatkan dana usaha, diantaranya :
1. Dana sendiri
Anda dapat memperoleh modal usaha dengan menggunakan dana Anda sendiri. Misalnya dengan menggunakan dana simpanan yang sudah Anda tabung selama ini. Jika belum cukup, maka Anda juga bisa menutupi kekurangan dana tersebut dengan menjual sebagian aset berharga yang Anda miliki saat ini misalnya Logam Mulia atau perhiasan. Tidak ada salahnya sedikit berkorban untuk kesuksesan bisnis, anggap saja Anda sedang berinvestasi untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar setelah usaha Anda berhasil berjalan nanti.
2. Mencari Dana Hibah Perusahaan
Modal juga dapat diperoleh dari dana hibah perusahaan, baik perusahaan pemerintah maupun swasta. Saat ini perusahaan-perusahaan besar biasanya memiliki budget atau anggaran tersendiri untuk membantu membangun perekonomian masyarakat di sekitar perusahaan maupun masyarakat umum dengan menyalurkan dana modal usaha melalui Divisi CSR (Corporate Social Responsibility). Untuk teknis penyaluran dana biasanya dalam bentuk event competition.  Oleh karena itu, event tersebut merupakan peluang bagi para calon pengusaha untuk mendapatkan tambahan dana bagi kelangsungan usaha Anda.
3. Menjalin Kerjasama
Jika Anda memiliki teman atau saudara yang memiliki minat yang sama dan hendak menjadikan hal tersebut sebagai bisnis, cara ini dapat dijadikan pilihan. Rekan bisnis tersebut bisa jadi hanya memberikan bantuan berupa modal, atau bisa jadi membantu juga dapat operasional bisnis sehari-hari. Anda juga harus menyepakati hal-hal seperti pembagian hasil agar kedua belah pihak tidak ada yang merasa dirugikan. Kesepakatan itu perlu dibuat perjanjian tertulis untuk mengantisipasi bila terjadi sesuatu di kemudian hari.
4. Mencari Investor
Hampir sama dengan menjalin kerjasama, cara ini juga membantu kita mendapatkan dana dari pihak ketiga. Bedanya, investor biasanya hanya memberikan modal berupa dana tanpa ikut terjun langsung dalam operasional. Hal lain sama seperti cara di atas, hal-hal seperti pembagian hasil atau kesepakatan lain harus dibuat berupa perjanjian tertulis agar kedua belah pihak tidak ada yang merasa dirugikan bila terjadi sesuatu di kemudian hari.
5. Mengajukan Pinjaman Modal Usaha Ke Bank Atau Koperasi
Anda juga dapat mengajukan permohonan pinjaman modal usaha ke Bank atau Koperasi. Sebelum pengajuan ini tidak jarang pihak Bank atau Koperasi ingin mengetahui profil usaha yang akan Anda buat berupa proposal atau bahkan beberapa meminta Anda untuk menyampaikan Feasibility Study yang bertujuan untuk menilai kelayakan implementasi sebuah bisnis dilihat dari Hanya saja, sebagaimana namanya pinjaman Anda harus mengembalikan biaya tersebut dalam jangka waktu tertentu ditambah bunga pinjaman yang besarannya bekisar antara 8-10% per tahun. Namun demikian, kami menyarankan agar ini menjadi pilihan terakhir karena  kewajiban pembayaran bunga dan cicilan dapat menjadi kendala untuk bisnis yang baru mulai berjalan.
Dalam pengajuan permohonan modal usaha ke pihak ketiga, kami sarankan agar Anda menyiapkan profil usaha yang akan Anda buat berupa proposal atau bahkan beberapa investor atau perusahaan meminta Anda untuk menyampaikan Feasibility Study yang bertujuan untuk menilai kelayakan implementasi sebuah bisnis dilihat dari sisi Keuntungan Finansial (Financial Benefit), Keuntungan Secara Makro Ekonomi (Macro Economy Benefit), serta Keuntungan Sosial (Social Benefit) yang diterima masyarakat berkaitan dengan usaha yang akan Anda bentuk.
Setelah mengetahui beberapa cara untuk memperoleh modal usahan, kami harap semoga bisa membantu Anda dalam mengatasi permasalahan modal yang selama ini menjadi salah satu kendala dalam membentuk sebuahusaha.  Selalu ada jalan jika Anda berani mencoba segala peluang yang ada. Selamat mencoba!

Membangun Fondasi Perusahaan

Oleh: DR HC. Ary Ginanjar Agustian, Corporate Culture Consultant
thecompanywarehouse.co.uk
Sebuah gempa dahsyat meluluh-lantakkan sebuah kota. Semua bangunan roboh, runtuh, dan nyaris rata dengan tanah. Namun ada satu gedung yang tidak roboh. Bangunan terkenal itu bernama Imperial Palace Hotel, Tokyo yang bertahan dari gempa sebesar 8.3 SR pada tahun 1923. Banyak orang penasaran, apa yang menyebabkan bangunan tersebut tetap berdiri. Setelah diselidiki ternyata fondasi bangunan itu memang dibuat sangat kuat.
Peristiwa itu membuat para ahli manajemen juga berpikir, bagaimana pula halnya dengan perusahaan?  Mereka menyelidiki perusahaan-perusahaan hebat di dunia yang mampu mengatasi berbagai "gempa". Apa sesungguhnya fondasi sebuah perusahaan, karena saat ini banyak sekali korporasi-korporasi yang roboh diterjang gempa. Sedangkan datangnya gempa sulit ditebak, perubahan pun selalu terjadi di mana-mana. Jika perusahaan ingin hebat dan ingin tahan gempa maka ia harus mempunyai fondasi kuat juga.
Fondasi perusahaan diakui banyak para pemimpin di dunia sebagai sesuatu yang menentukan kesuksesan korporasi untuk jangka panjang. Tidak ada orang yang membuat perusahaan hanya untuk jangka pendek, Lalu apa fondasi perusahaan itu?
Arie De Geuss dalam risetnya ‘The Living Company’ membuat sebuah kesimpulan bahwa perusahaan yg mampu bertahan hingga seratus tahun adalah mereka yg memiliki budaya sebagai fondasi kuat. Perusahaan hebat seperti Shell dan GE, umur mereka mencapai lebih dari seratus tahun. Begitu juga hasil riset terbaru Jim Collins dalam buku ‘Good to Great’ yang fenomenal tentang beberapa gelintir perusahaan hebat dari Fortune 500 bahwa korporasi yang hebat adalah mereka yg mampu terus mempertahankan core value dan core purpose" di tengah berbagai perubahan: strategi, struktur, maupun manajemen. Artinya mereka mampu mempertahankan misi inti dan nilai inti sebagai budaya, itulah fondasi korporasi atau dengan kata lain "culture".
Core Purpose sesungguhnya adalah misi organisasi yang menjasi alasan utama mengapa perusahaan itu didirikan dan mau kemana perusahaan itu pergi. Sedang Core Value adalah Nilai Dasar Korporasi yang menjadi pedoman dan sikap perilaku manusia yang berada dalam organisasi. Tentu itu semua bukan hanya tertulis pada company profile, menjadi hiasan dinding, atau jargon pidato semata. Akan tetapi harus menjadi "ruh" bahkan DNA dari organisasi tersebut. Kemudian semua orang di dalamnya merasa terikat dalam sebuah komunitas yang kuat sehingga tercipta inter-dependen antar satu dengan yang lainnya. Ruh serta DNA budaya korporasi itu menjadi sebuah software hati dan pikiran yang bisa diwariskan antar generasi.
Di Barat kita bisa melihat bagaimana GE begitu hebat kemajuan dan pertumbuhannya. Di era Jack Welch ia menamakan corporate culturenya "4e1p" yaitu 4 E: Energy, Energize, Edge, Execution yang melahirkan Passion serta didasari Leadership yang berbasis Integrity,Trusworthy, dan Ethical yang terbukti membuat GE melejit. Di Timur kita melihat Toyota Jepang yang memilki konsep Dua Tiang Lima Landasan. Dua tiangnya adalah Perbaikan terus menerus dan menghargai manusia. Lima landasannya adalah: Tantangan atau Visi yang jauh ke depan, Kaizen, Genshi Genbutsu (saya lihat saya tahu), Kaizen dan Teamwork.
Permasahan yang sering terjadi di Indonesia adalah, terlalu sering gonta-ganti strategi, struktur dan sistem. Bahkan timbul kesan "ganti pemimpin ganti sistem" tanpa mereka tahu dan pelajari bagaimana culture atau ruh dari organisasi tersebut dibentuk, dibangun, dan dipelihara. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana dulu pemerintah menggalakan GKM atau Gugus Kendali Mutu yaitu sebuah sistem untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi organisasi secara berkelanjutan akan tetapi akhirnya gagal. Ide awalnya adalah ingin mengikuti konsep kaizen Jepang atau sistem perbaikan terus menerus, akan tetapi lupa satu hal yaitu culture.
Ibarat kita ingin membangun sebuah rumah, semua orang sibuk ada yang meninggikan dinding, mengecat tembok, membuat pintu dan jendela, memasang kaca, lalu memasang atap di atasnya, bahkan mereka ribut untuk menentukan mana terlebih dahulu, dinding atau pintu? Akan tetapi mereka lupa membangun fondasi yang kuat di bawahnya. Tentu saja rumah itu cepat atau lambat akan roboh menimpa orang yang tinggal di dalamnya. Dalam skala lebih besar, begitu pula dalam membangun Bangsa Indonesia, kita tidak cukup hanya membangun sistem akan tetapi tidak membangun karakter bangsa, karena di sanalah sesungguhnya letaknya fondasi Indonesia.

hal-hal sebelum memulai sebuah perusahaan

10 Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Memulai Sebuah Perusahaan


10 Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Memulai Sebuah Perusahaan 1. Apakah ini Venture pertama Anda?
Jikalau Anda sudah pernah berhasil dalam membangun suatu venture bersama investor dan menghasilkan banyak uang, Anda mungkin hanya perlu menghubungi salah satu investor untuk menjelaskan ide baru Anda dan bagaimana ide ini nantinya akan mendatangkan uang yang lebih banyak lagi untuknya. Dan Anda dapat melewatkan hal nomor 2 di bawah. Kenyataannya, venture kedua justru seringkali gagal karena kesombongan.
Namun, jika venture pertama Anda gagal, Anda akan mempertimbangkan kembali apakah usaha tersebut patut dicoba kembali dan ya, Anda telah sering mendengar cerita mengenai orang-orang yang telah berusaha dan gagal berkali-kali sebelum akhirnya mereka berhasil. Anda cenderung akan melewatkan cerita orang-orang yang telah mencoba berkali-kali dan tidak pernah mencapai kesuksesan.
Dengan kata lain, apakah benar Anda seorang Entrepreneur?
2. Apakah benar Anda seorang Entrepreneur?
Banyak sekali daftar di luar sana untuk mengecek kebenaran hal ini namun sesungguhnya ini merupakan ujian terhadap keberanian Anda.
  • Tahap akhir menuju kesuksesan Anda, ketika semuanya kelihatan mudah namun sesungguhnya tidak. Ketika Anda memasuki tahap ini, Anda akan memperoleh banyak uang tetapi tahap selanjutnyalah yang akan sangat menguji Anda. Apakah anda siap menghadapinya atau malahan Anda mengira tahap kesuksesan ini bertahan selamanya? Perhatikan hal nomor 7 di bawah “Memulai suatu perusahaan itu sulit dan tidak pasti.”
  • Masa-masa sulit ketika Anda tidak memiliki pekerjaan. Hal inilah yang memaksa munculnya kewirausahaan (entrepreneurship) karena sekalipun venture itu gagal, ia akan membuat resume Anda kelihatan lebih baik daripada kosong sama sekali. Perhatikan hal nomor 9 dibawah “Akankah Anda menolak pekerjaan dengan gaji tinggi demi melakukan hal ini?” Jika jawabannya tidak, maka sudah jelas kemana Anda akan melangkah. Jika jawaban Anda adalah sebaliknya, maka perlakukan periode sulit ini sebagai pembelajaran dan sekaligus untuk mengisi bagian kosong dari resume Anda. Bisa jadi Anda beruntung dalam membawa perubahan setelah menolak pekerjaan yang sangat Anda inginkan untuk melakukan hal ini. Namun jangan berharap banyak pada keberuntungan karena keberuntungan itu berubah-ubah.
3. Apakah Venture ini melibatkan hal yang benar-benar Anda pahami?
Bisakah Anda menjawab pertanyaan dari semua orang tanpa catatan di tangan Anda? Apakah orang lain menanyakan pendapat Anda mengenai hal ini? Banyak orang berbicara mengenai passion. Ya, Anda perlu memperhatikan hal tersebut, namun pemahaman, pengetahuan, dan keahlian-lah yang akan membawa Anda melewati berbagai proses ketika passion itu melemah.
4. Apakah Ibu Anda memahami value proposition Anda?
Tentulah Ibu Anda menginginkan anaknya sukses, tetapi Anda tidak dapat hanya mengandalkan Ibu Anda berkata,”Iya sayang, itu kedengarannya hebat. Aku yakin kamu bisa melakukannya.” Namun apakah Ibu Anda dapat sungguh-sungguh memahaminya? Dapatkah ia menjelaskan venture Anda kepada teman-temannya? Ini bisa menjadi ujian bagi Anda untuk menghindari pemikiran yang melenceng mengenai ide Anda. Pastikan semua orang memahaminya seperti Anda.
5. Dapatkah Anda melihat gelombang (wave) yang benar?
Setiap venture memerlukan gelombang yang benar agar berhasil. Banyak sekali tantangan yang harus anda hadapi untuk menuju kesuksesan startup Anda. Anda perlu menemukan suatu tren yang dapat menjadi teman Anda untuk melawan pemain lama. Hal ini mungkin kelihatannya bertentangan dengan hal nomor 3 dimana ditekankan pada akal sehat. Namun keduanya dapat dilakukan bersamaan. Salah satu contoh tren adalah pergerakan dari periklanan secara offline menuju online. Penting bagi Anda untuk dapat menjelaskan bagaimana Anda memperoleh perhatian besar dari audiens dengan usaha dan biaya yang rendah tersebut tapi tetap dapat memberikan hasil atau profit yang besar.
Ada gelombang yang besar dan ada gelombang yang kecil. Gelombang yang besar sudah sangat jelas dan mungkin semua orang telah menemukannya. Maka inilah saatnya Anda menemukan gelombang yang lebih kecil dari gelombang besar yang sudah ada.
Dapatkah Anda menjelaskan gelombang yang kecil dan besar dalam waktu 30 detik?
6. Apa yang ingin dicapai Startup Anda ketika bertumbuh?
Apakah Anda menginginkan bisnis yang bergerak di bidang lifestyle? Atau usaha yang bertumbuh cepat sehingga Anda dapat menjualnya dalam kurun waktu dua tahun? Atau Anda malah ingin membangun sebuah perusahaan besar dan menemukan diri Anda di cover majalah Fortune?
Jujurlah pada diri Anda, kepada investor dan partner Anda.
Bayangkan kesuksesan Anda, seperti apa yang Anda inginkan? Apakah Anda hanya bekerja empat jam per minggunya, sementara karyawan dan website Anda menjalankan bagiannya mengalirkan dana untuk memenuhi hidup Anda yang fun. Apakah Anda baru saja mencapai suatu kesepakatan penjualan venture Anda kepada perusahaan XYZ MegaCorp dan memperoleh uang banyak. Ataukah Anda adalah seorang CEO yang memegang saham terbesar dari suatu perusahaan yang apabila sedikit saja kesalahan dalam pengambilan keputusan dapat menghancurkan seluruh usaha Anda sepanjang dekade ini dan mencintai setiap menitnya.
7. Memulai suatu perusahaan itu sulit dan tidak pasti
Tingkat kegagalan untuk venture yang didanai oleh keuangan sendiri adalah 90% dan tingkat kegagalan venture yang didanai oleh pihak luar adalah 33%. Maka dari itu pendanaan dari Venture Capital (VC) patut dirayakan. Memang kemungkinannya sangat kecil untuk memperoleh dana dari Venture Capital bagi entrepreneur yang baru pertama kali membangun venture. Jadi, kesempatan untuk pertama kali memulai startup itu sangatlah sulit, bahkan mungkin bermain rolet di Vegas masih lebih menguntungkan.
Bagi perusahaan yang berhasil, mereka pasti telah melewati masa-masa dengan perut bergejolak, waktu-waktu yang membuat stress, yang jauh lebih lama dari yang dapat dipikirkan orang-orang. Jangan pernah percaya kalau ada entrepreneur yang membuatnya terdengar mudah karena mereka sesungguhnya telah lupa rasanya melewati masa-masa itu.
8. Bekerja dengan partner atau bekerja sendiri?
Tidak ada jawaban benar atau salah untuk pertanyaan ini. Hal ini bergantung pada diri Anda sendiri, tipe entrepreneur yang bagaimanakah Anda? Bekerja dengan partner berarti pembagian keuntungan 50/50, sama. Bukan 49/51 atau pembagian persentase lainnya.
Kesepakatan pembelian atau penjualan dalam perjanjian dengan partner juga hal yang penting untuk pencegahan yang bijak karena semua orang bisa berubah. Kebutuhan dan motivasi setiap orang akan berubah seiring berjalannya waktu. Mungkin Anda yang nantinya ingin keluar dari partnership dan memulai startup lain. Atau Anda ingin membeli bagian partner Anda. Semua kemungkinan dapat terjadi dan perjanjian yang dilakukan seharusnya saling menguntungkan.
9. Akankah Anda menolak pekerjaan dengan gaji tinggi demi melakukan hal ini?
Benarkah? Seberapa tinggikah gaji tersebut sampai membuat Anda tidak akan menolaknya.
10. Dapatkah Anda memperoleh keuangan yang cukup?
Tingkat kegagalan untuk venture yang didanai oleh keuangan sendiri adalah 90% (perhatikan hal nomor 7). Anda mungkin tidak memerlukan dana yang besar, cukup dana yang sesuai untuk jenis startup yang Anda bangun (perhatikan hal nomor 6).
Satu poin terakhir : apakah Anda mengetahui paling sedikit satu orang investor yang memiliki dana sebesar itu dan menginvestasikan uangnya untuk venture yang sejenis? Ataukah Anda mengenal seseorang yang mengenal baik investor semacam itu. Jika jawabannya tidak, maka kemungkinan untuk memperoleh dana akan semakin sulit.
Tekad, kepandaian, dan kerja keras bisa mengalahkan tantangan atau kesulitan tersebut. Namun lebih baik lagi apabila Anda memperhitungkan kesulitan-kesulitan tersebut sebelum memulai.